Selasa, 12 Februari 2019

Mulai Literasi Keuangan dari Akun Biz


Sering merasa gak kalo uang yang masuk rekening hanya lewat saja tanpa salam. Masuk sebentar lalu good bye. Saat butuh uang,mesin ATM hanya bisa milang ‘Maaf saldo anda tindak mencukupi”. Eh, pas curhat sama suami malah ditanya balik, “Kok bisa?” Sedih aku tuh....

Apakah Saya terlalu boros menggunakan uang? Ih, rasanya sih enggak. Tapi kenyataannya ya keteteran terus. Nah, berangkat dari perasaan galau gini Saya mencatat pengelolaan keuangan rumah tangga. Remeh temeh banget. Pake buku dan pulpen aja jaman itu sih. Manfaatnya adalah Saya bisa ngerem pengeluaran yang tidak penting. Namun seiring tingginya mobilitas “Perdana Menteri” Rumah Tangga ini, catat-mencatat jadi sering terlupakan. Palingan mencatat pengeluaran terbesar. Padahal justru pengeluaran ting printil itulah yang bikin kepala mumet.

Kamis, 07 Februari 2019

Kakak Adik Beda Sekolah Atau Satuin Aja?

Kakak Adik Beda Sekolah Atau Satuin Aja?
Punya anak lebih dari satu, macam-macam warnanya. Ada aja cerita "unik". Milih sekolah, misalnya.
Sederhananya saat adek mau sekolah, gabungin aja sama si kakak. Biar gampang antar jemputnya. Tapi kenyataannya, si adik berbeda sekolah dengan kakak.
"Kenapa?"
Apakah emang lazimnya adek bersekolah yang sama dengan kakak. Jika beda sekolah, jadinya fenomena. Embuh.

Kamis, 31 Januari 2019

Atmosfer KEB INTIMATE Bersama 9 Komunitas Perempuan di Solo.

Atmosfer Positif

Atmosfer adalah lapisan udara yang tipis, ringan, tak terlihat, yang berada di sisi luar bumi. Tak nampak atmosfer ini dari foto citra satelit di luar angkasa. Hanya planet biru yang cantik terlihat. Namun apalah bumi tanpa atmosfer? Lapisan udara ini menyempurnakan bumi. Memberi nafas kehidupan pada daratan dan lautan. Dan, perkasa melindungi bumi. Tak terlihat, nan berdaya.

Ini lah yang kutemukan kemarin Minggu 27 Januari 2019, di Skyline lantai 21 Hotel Best Western Premier (BWP) Solo Baru di acara KEB INTIMATE. Acara yang dihelat oleh Kumpulan Emak Blogger Solo Raya bertajuk KEB INTIMATE bersama komunitas perempuan di Solo Raya. Tujuannya agar para perempuan bersinergi bersama membangun bangsa dari rumah.  Seperti yang Saya rasakan, perempuan yang sudah menikah, maka prioritasnya berubah. Nomor satu adalah keluarga. Tapi, jangan jadikan rumah sebagai penjara. Jadikan rumah sebagai tempat berkarya.
KEB INTIMATE bersama 9 Komunitas Perempuan di Solo, bersama KEBersinergi.

Tengkyu BWP. Skyline-nya lembut bersinar namun ‘gagah’ dan mandiri. Sama kayak kita-kita ini...

Rabu, 09 Januari 2019

You Touch Me, Marry Poppin. The Review of Marry Poppin.

Nonton film ini diakhir masa liburan sekolah. Gak ada alasan lain hanya kebetulan saja. Demi menghibur hati yang kecewa gak jadi liburan ke luar kota.

Selain Spiderman ya Marry Poppin ini yang ratingnya SU (Semua Umur). Rate ini patokan utama memilih film yang ditonton bareng anak 2 (bawah 13 tahun). Meskipun sedikit tergoda oleh film Bumblebee tapi ratenya 13+. Katanya, adegan kisseu minimalis. Tapi eh tapi emak cari aman sajo. Secara nih anak kalo nanya panjang X lebar sama dengan gak selesai2.

Baiklah.... kembali ke Marry Poppin.

Di awal film, Marry Poppin muncul dari langit. Bertemu dengan anak2 keluarga Banks. Dan ternyata Bapak dan buleknya anak2 itu sudah kenal sama si Marry Poppin ini.

"Marry Poppin!!! Kamu masih terlihat cantik. Tidak berubah!" Kata Michael Banks.

Jebule saat Michael kecil, Marry Poppin pernah datang ke keluarga ini untuk mengasuhnya yang super nakal. Dulu.

Nah, sekarang datang lagi untuk mengasuh anak-anaknya si Michael. Sebenarnya anak2 si Michael ini anteng, mandiri dan disiplin. Karena terlalu anteng inilah Marry Poppin datang agar lebih santai menjalani hidup. Di sini Saya baper.

Kebaperan Saya tambah parah. Film ini bersetting tahun 30an dengan banyak nyanyi2. Ya iyalah kan film musikal (jebule... baru tau setelah google barusan).

Lirik dalam lagu-lagunya itu bikin baper. Terutama, lagu pas anak2 dan Marry Poppin tersesat sementara Ayahnya menunggu di rumah. Mereka ketakutan menghadapi amarah sang ayah.

Inti lagunya itu, jika kamu bertemu masalah hanya ada pilihan, kamu menangis atau berusaha. Saat kamu sendiri di kamar dan mati lampu, kamu hanya boleh nangis atau cari cahaya.

Dan, Saya meleleh dong.... Hampir keseluruhan  dari film ini bikin Saya baper. Meskipun Saya sudah bisa nebak alur cerita dan konfliknya. Ya klasik, Bapaknya anak2 terlilit hutang dan rumahnya akan disita oleh bank. Mereka berjuang menemukan sertifikat saham agar bisa membayar hutang. Akhirnya happy ending.

Saya menikmati dunia imajinasi yang dibawa oleh Marry Poppin dengan lagu2nya.

Intinya mah... slow... santai... gitu aja kok repot. Ini sih film yang menghibur Saya. Tapi anak2 juga keliatan menikmati juga.

"Seru yaaa... masuk.ke bak mandi terus langsung ketemu lumba2," anak2 seru2 cerita.

"Ibu, apakah Marry Poppin itu nyata?" Tanya si anak wedok.

Hahahahaha. Enggaklah. Hanya imajinasi. Tapi kita bisa menjadikannya nyata. Caranya?

"Close your eyes"