Setelah menempuh perjalanan darat selama 7 jam -numpak travel Joglosemar dari Solo, saya, si sulung dan bungsu, dan Ibu tercinta tiba di Desa Gumiwang, Banjarnegara. Kata Ibu, desa ini adalah tanah kelahiran ibunya ibu (Mbah putri saya). Daerah yang baru saya kenal namanya dari pemberitaan tentang longsornya. Anak-anak yang gembira karena mereka tiba di desa. Pandangan kami memendar, mencecap, merekam memori kampung halaman si mbah.
"Ibu, keinginanmu untuk pulang ke sini baru terlaksana sekarang," gumam Ibu perlahan. Matanya tampak memerah. Air mata menggenang namun enggan jatuh. Ah, saya pun merasakan kerinduan yang teramat sangat itu.
Ya, akhirnya. Keluarga Marto Sosro Suwignyo pulang kampung lagi setelah berpuluh-puluh tahun kemudian. Puluhan tahun silam, pasangan
suami istri Marto Sosro Suwignyo, Carik Tlewang (Gumiwang, Banjarnegara), meninggal dunia bersamaan. Mereka meninggalkan lima anak yang masih sangat belia, Iskandar, Soliah, Salbiah, Julina dan Marjami. Kelima bersaudara itu selanjutnya hidup terpisah-pisah. Ada yang
merantau ke pulau Sumatera, Jakarta dan daerah lainnya.
Di tempat baru,
kelimanya melanjtukan hidup dan membangun keluarga. Hingga sang pengatur hidup
memanggil, kelima saudara ini tidak lagi bersua. Kerinduan untuk bertemu
dengan saudara sedarah hanya bersemayam di batin saja. Hingga batin rindu itu
menggetarkan hati generasi penerus (anak-anak) mereka untuk berkumpul kembali.
Menyambung silaturahmi yang terputus.
Pada Sabtu, 27 Desember 2014, generasi yang hilang dari
Marto Sosro Suwignyo berkumpul kembali di kampung halaman orang tua mereka,
Banjarnegara. Kerinduan lima saudara itu diwakilkan oleh putra-putri, cucu dan
cicit. Keluarga dari Medan, Palembang, Jakarta, Bogor, Purwokerto saling
bersua. Saling mengenal satu sama lain.
“Ternyata keluarga kita memang besar, lebih dari seratusan
orang hadir di sini. Semoga anggota keluarga yang tadinya tidak saling mengenal
kini bisa saling menyayangi karena kita memang keluarga. Tambah saudara, tambah
keluarga,” tutur Pakde Joko Martoyo. Pakde Joko yang paling bersemangat
mengumpulkan keluarga yang tersebar.
Pakde Joko Martoyo menjelaskan silsilah Keluarga Marto Sosro Suwognyo |
Bagi saya, pertemuan itu sudah melengkapi jati diri. Selama ini
saya hanya mengenal keluarga inti kedua orang tua saya saja. Saya kenal
keluarga bapak, kebetulan sebagian besar bermukim di Sumatera Selatan. Sedangkan
dari keluarga Ibu hanya saudara kandung saja. Bagai anak hilang. Setelah pulang
kampung kemarin, lengkap sudah silsilah keturunan saya. Ternyata saya orang ‘ngapak’
juga. “Lha, kepriben, nyong jawa kowek.”
Pakde Joko mengisyaratkan agar silaturahim ini terus
terjalin erat. Jika memungkinkan pertemuan keluarga besar ini diselenggarakan
kembali, dua tahunan atau empat tahunan. Agar generasi Marto Sosro Suwignyo
terus saling mengenal.
Anggota keluarga yang tadinya asing, ngobrol renyah dalam suasana akrab. Generasi keempat (para cicit), termasuk si sulung dan si bungsu, bermain bersama. Tidak ada batasan latar pendidikan dan ekonomi (si kaya dan si miskin), semua larut dalam kerinduan. Potongan cerita masa lalu yang berkeping-keping disatukan dalam obrolan kenangan. Sedangkan saya yang miskin cerita ini, membaur diri dengan wisata kuliner hidangan khas Banjarnegara. Asik saja syaa bertanya tentang buntil, nasi jagung, nasi krekel, dawet duren pada mbah, bude-bude, bulek-bulek, mas-mas, dan mbak-mbak yang baru saya kenal.
Generasi dari Mbah Iskandar |
Generasi dari Mbah Soliah |
Generasi dari Mbah Salbiah |
Generasi dari Mbah Julinah |
Generasi dari Mbah Marjami |
Si Bungsu seneng banget Dawet Duren. Daging durian dicampur bersama juruh gula aren. Maknyuss |
Kuliner khas Banjarnegara. Makyusss |
Sampai Jumpa Lagi Keluargaku.... Semoga Allah memberi kita usia, kesehatan dan rejeki untuk kembali berkumpul. Aamiin.
Subhanalloh, tentu nggak mudah ya buat mengumpulkan keluarga besar. Bisa turut merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Jadi pengen dawet ayu ne banjarnegara deh
BalasHapusIya mbak. Ternyata mereka semua juga rindu berkumpul dengan keluarganya. Btw, dawetnya emang enak banget. Baru kali ini ngerasain yang asli. Sedaaap. Maknyuss. Qiqiqi...
HapusAssalamu Alaikum W W
BalasHapusPertama saya terimakasih dengan Bunga yang telah menulis di blog in
Gagasan ingin mengumpulkan saudara untuk berkumpul di Gumiwang tanpa dukungan dari semua saudara tidak mungkin bisa.
Keluarga besar Ibu Tuminah Mochari Alm yang jauh jauh hari telah menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut saudaranya dari berbagai daerah
Om Dibyo juga menyiapkan kendaraanya,dari Palembang ,Lampung jauh hari sudah beli tiket,dari Jakarta dan Jateng ada yang naik bis,travel dan kendaraan pribadi.
Yang sangat mengharukan ada saudara yang fisiknya sudah lemah karena sudah sepuh bisa hadir juga
Semua bisa datang ke Gumiwang karena semangat ingin bertemu saudara yang lama tak jumpa,dan rindu kampung.
Alhamdulillah acara pertemuan di Gumiwang berjalan dengan lancar dan sukses ,dan lihatlah nilai positipnya jangan melihat kekurangannya
Semoga tulisan diblog ini bisa menjadi awal komunikasi dimedia sosial , antar saudara sehingga bisa menambah erat tali persaudaraan terutama generasi mudanya
Silakan berkomunikasi yang baik sopan jangan saling mencela,
Biasakan menulis PIN supaya kita tahu dari keturunan siapa, contoh Zakiah Wulandari C.4.4G3 ( keterang lihat di buku silsilah )
Sekedar informasi ,saya sudah buat album foto yang sederhana,bisa dilihat di Google judul Tlewang Gumiwang
Wassalamu Alaikum W W dari Pak De Djoko B.9.G2
Maturnuwun Pak De...
HapusPakde saya sudah mampir ke blog masowig.blogspot.com. Maturnuwun.
HapusAlhamdulillah, aku bisa mampir kedua blog, mana yang lain ?
BalasHapuspakpoerBIOG2
Assalamualaikum pakde... Maturnuwun sudah mampir. :)
HapusWss.w.w
Hapusiya .ada saudara. tapi tak sms belum bales.hpnya tidak aktip.makmano ni, wong kito galau kok kate yang mampir. sepi2 bae, apa lagi kedinginan musim hujan.ha ha ha