Selasa, 26 Agustus 2025

Caraku Keluar Dari Depresi

Topik tentang kesehatan mental, jadi trending belakangan ini. Saya mulai aware sama kesehatan mental itu sejak gempar berita Ibu membunuh anak-anaknya di Bandung sekitar tahun 2006. Diduga Ibu itu babyblues dan depresi. 

Jadi sebelum nikah dan punya anak Saya sudah mempersiapkan diri untuk mencegah babyblues ini. Saya sudah menyusun begitu banyak rencana, begini dan begitu. Namun, ketika sesaat setelah melahirkan... Jeng, jeng, jeng, situasi dan kondisi terjadi di luar kendali. 

Rencana yang telah tersusun, jadi ambyar. Begitu banyak keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang. Nah, hal-hal itu yang kemudian Saya rasa berkembang jadi perasaan babyblues dan depresi. Saya hanya 'merasa' saja, karena memang gak pernah periksa.  Jadi gak ada diagnosa dari psikolog atau psikiater. 



Saya menyadari ada yang tidak beres dengan diri ini, setelah 7 tahun menjadi Ibu. Saya, menjalani Long Distance Marriage (LDM), yah pasangan mungkin tidak paham apa yang bergejolak dalam diri istrinya. Hingga suatu hari, Saya melihat foto diri jaman dulu yang sedang tertawa dan berfikir, 'Kapan terakhir kali aku tertawa kayak gini ya?' Semakin mengingat-ingat, malah air mata yang mengalir. Saya bertanya dalam ke diri sendiri, "Mengapa nangis? Apa yang ditangisi?' Semakin menggali memori, tidak juga menemukan jawabannnya, kemudian ta simpulkan bahwa; 'Ada yang gak beres dalam diri Saya'.

Gejala 'Tak Beres"

Pertama - Mood Swing
Saya mengurus anak-anak tanpa bantuan ART dan babysitter, jadi semua hal Saya kerjakan sendiri. Saat mengerjakan ini dan itu, Saya bisa mengerjakannya dalam iklas dan senang hati. Eh, menit berikutnya, hanya melihat sesuatu yang tidak sesuai tempatnya Saya bisa ngamuk, dan melampiaskannya ke anak-anak. Setelah, itu menyesal. 'Padahal cuma hal kecil aja kenapa bisa ngamuk?' Kasian anak-anak. Di detik lain, mood nya bisa menangis bombay berderai air mata seperti orang yang paling menderita di dunia. 

Kedua - Badan Nyeri dan alergi kambuh nonstop '
Badan rasanya ngilu dan nyeri, ada saja tempat nyerinya. Katanya orang-orang itu namanya remaja jompo. Jika tak bisa nahan nyerinya, solusinya minum paracetamol. Mungkin saja nyeri itu datangnya dari alergi eksim yang tak berjeda. Sebagai penderita eksim, mungkin ada yang sama - tak bisa sering kena sabun. Nyuci piring, nyuci baju, nge pel semua pake sarung tangan. Tapi masih kambuh eksimnya. Makan juga tidak seafood dan ikan asin, tapi masih juga kambuh. Bahkan wudhu pun jadi tantangan karena kena air tuh rasanya pedih. 

Kedua - Malas Ngaca
Malas ngaca, kok ngaruh ta? Iya... Soalnya sebelum menikah, Saya tuh hobinya ngaca. Entah sejak kapan jadi malas banget liat kaca. Saya merasa, orang yang ada di kaca itu bukan Saya. Sudah merasa jaid orang yang jelek sedunia.

Ketiga - Lupa Rasanya Tertawa
Tertawa mungkin respon manusia terhadap sesuatu yang lucu. Sepele. Karena semua orang juga tau hal itu. Namun, ternyata kita butuh tertawa. Tertawa bisa meningkatkan mood, imunitas, melancarkan peredaran darah, membuat kita berpikiran positif dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah. Waktu itu Saya merasa lupa bagaimana rasanya tertawa yang lepas hingga menimbulkan gelombang bahagia yang menenangkan. 

Keempat - Tak Berdaya
Saya merasa selalu kehabisan energi. Saya merasa selalu mengantuk tapi susah tidur. Begitu lepas magrib atau Isya, 'Plop', mata langsung terpejam. Saya sampai tidak tau jam berapa anak-anak tidur. Hal yang menjadi penyesalan di kemudian hari. 

Kelima - Hilang Hasrat Untuk Hidup
Perasaan ini bukan yang ingin mengakhiri hidup begitu, tapi seperti perasaan yang 'burn out'. Bangunan luar yang terlihat hidup namun di dalamnya kosong terbakar. Hidup  yang hanya menjalani saja karena masih diberi hidup, tapi tidak ada gairah dan semangatnya. 

Saya sempat berpikir ke psikolog sekedar konsultasi tapi jaman 10 tahun yang lalu, belum masuk dalam cover bpjs. Katanya sekarang ada layanan psikologi di PUskesmas ya? Jadi yang Saya lakukan adalah berdoa pada Allah, "Ya Allah, Hamba merasa ada yang tidak beres dalam diri ini. Tapi Saya ga tau apa dan bagaimana cara mengatasinya. Berilah petunjukMu," 

Dalam perjalanannya, saya dipertemukan dengan jawaban dari permasalahan:

Dokter Baik

Eksim yang tak ber-jeda lama-lama menyiksa fisik dan mental. Sakit ya karena gatal dan nyeri apalagi jika sudah basah (menyenyeh) dan menurunkan kepercayaan diri. Rasanya malu apabila bertemu dengan orang, karena eksimya di hampir semua jari tangan. Saat konsultasi dengan Dokter Wito Spesialis Kulit di Rumah Sakit Kaish Ibu, Solo. Ndilalahnya, waktu konsultasinya lama karena semi curhat. Tumben banget dapet dokter yang gaya komunikasinya seperti ini. Satu pesan

nya yang terngiang,"Musabab alergimu ini ya dari stres dan pikiran. Mbok make baju astronot dan makan cuma sayur buah tok, ya bakalan kambuh terus alergimu kalau pikiranmu tidak dibenahi," Beliau meresepkan salep dan bilang "Nek mulai gatel jangan digaruk, oles aja salepnya," 

Pulang dari sana, Saya mulai mikir. Lah wong namanya manusia hidup yang pasti mikir dan stres, kayaknya wajar aja kan? Terus gimana caranya memperbaiki pikiran dan stress?

Yoga -Terapi Jiwa 

Saya dipertemukan dengan teman yang ngajak olahraga Yoga. Dengan rutin yoga, Saya bisa mengolah nafas dengan baik. Nafas jadi lebih panjang tidak lagi pendek yang membuat nafasnya jadi sesak. Gerakan lembut, pernapasan dalam dan konsentrasi pada gerakan, menenangkan stress. Saat otot yang dilatih, nyeri yang sering terasa jadi lepas berkurang. Setelah latihan yoga, tubuh yang lelah mungkin ya membuat Saya jadi lebih mudah tidur dan bangun dengan lebih segar. 

Saat melakukan yoga, ada gerakan yoga yang tidak bisa Saya lakukan karena otot yang lama tidak dilatih. Apabila dipaksa untuk mencapai gerakan yang dimaksud malah membawa tubuh jadi cedera. Maka, Saya menghargai dan menerima kemampuan diri. Secara tidak langsung membuat diri ini, menerima kekuarangan dan bersyukur atas-nya. 

Perpaduan gerakan, pernapasan dan konsentrasi membuat hati lebih ringan dan pikiran lebih fokus dan lapang. Dengan rutin yoga, Saya merasa mood jadi lebih terkendali. 

Ilmu Alam Bawah Sadar

Kakak Saya tiba-tiba ngajak ikut pelatihan energi alam bawah sadar. Banyak ahli neurosains yang mengatakan bahwa 95 persen kehidupan terpengaruh dari alam bawah sadar ini. Alam bawah sadar itu seperti program otomatisisasi dalam tubuh yang merekam semua pengalaman dan emosi positif atau negatif, Luka batin, trauma, pola asuh orang tua, atau nasihat yang sering di dengar. Alam bawah sadar menyimpan reaksi cepat seperti takut, marah, atau senang sebelum logika sempat bekerja. 

Hmmm, Saya tidak bisa bicara banyak dan dalam tentang hal ini. Hanya Saya merasakan manfaatnya setelah pelatihan tersebut. Memang tidak cukup rasaya kalau hanya mengandalkan niat saja tapi juga perlu 'memprogram ulang" alam bawah sadar dengan kebiasaan baru, afirmasi positif, doa, dan lingkungan yang mendukung. 

Beberapa cara untuk melatih alam bawah sadar seperti:

- Afirmasi Positif
 Ucapkan kalimat positif berulang-ulang setiap hari. Ucapkan terutama sebelum tidur atau setelah bangun tidur, karena saat itu bawah sadar lebih terbuka.\
- Visualisasi
  Bayangkan dengan detail apa yang ingin dicapai (misalnya pekerjaan impian, kondisi tubuh sehat, keluarga harmonis). Gunakan imajinasi seolah- olah itu seudah terjadi, lengkap dengan rasa syukur dan emosi positifnya. 
- Pernafasan
Duduk tenang, fokus pada nafas. Saat pikiran tenang, pesan atau atau sugesti akan lebih mudah masuk ke bawah sadar. 
-Syukur dan Doa
Rasa syukur membuat bawah sadar lebih terbuka pada hal-hal baik. Daalm islam, doa dan zikir juga bisa menjadi cara mengisi bawah sadar dengan energi positif.

Perasaan semacam depresi mengkin membuat hari terasa gelap, tapi selalu ada cahaya yang bisa kita temukan. Dengan yoga, Saya belajar tenang, dengan melatih alam bawah sadar Saya belajar berharap. Dalam memulihkan kesehatan mental ini memang tidak bisa cepat. Atau nampak secara kasat mata. Perjuangan itu butuh waktu tapi setiap nafas adalah langkah kecil menuju hidup yang lebih damai. Yoga dan ilmu bawah sadar mengantarku pada rasa syukur atas nafas yang baiik membawa jiwa yang tenang. 

Minggu, 24 Agustus 2025

"Orang dengan Masalah Kejiwaan butuh kita sebagai teman," - Kisah Triana Rahmawati, perempuan dibalik Griya Schizofren

Pada 17 Agustus lalu, semarak kemerdekaan dengan bendera merah putih dan pernak perniknya, kental terasa di Griya PMI Surakarta, rumah bagi ODGJ terlantar. Apalagi teman-teman komunitas dari Griya Schizofren menggelar berbagai lomba khas peringatan kemerdekaan Indonesia. Ada lomba meniup gelas, lomba memecah balon dengan topi di kepala, dan lainnya. Para warga antusias mengikuti lomba-lomba itu. Bahkan terlihat senang gembira saat menerima hadiah lombanya. 

 


Menurut Triana Rahmawati, Pendiri Griya Schizofren Solo, kegiatan yang dilakukannya bersama warga griya tersebut, bertujuan mengembalikan fungsi sosial masyarakat kepada mereka. Karena, stigma negatif yang melekat dimasyarakat meminggirkan ODGJ. Bahkan tak dianggap benar-benar ada. “Mereka ini membutuhkan kita. Di sini kita peduli dan memerhatikan bukan sebagi psikolog atau dokter tetapi sebagai teman,” tutur Triana. Ia menceritakan kisahnya bersama Griya Schizofren dalam acara workshop fotografi dan bincang inspiratif, "Satukan Gerak Terus Berdampak", Kamis (21/8) di SMG (Solopos Media Grup), Solo. Triana berbicara sebagai tokoh inspiratif.

 

Siapa Triana Rahmawati?



Triana Rahmawati

Triana bukanlah psikolog, bukan psikiatri, bukan pula pejabat besar. Ia hanyalah seorang perempuan biasa alumnus Sosiologi UNS yang bertekad besar memberi energinya dan perhatian kepada orang-orang dalam masalah kejiwaan (ODMK). Bisa dibilang Triana mendirikan komunitas Griya Schizofren ini dengan modal nekat. Ia tidak memiliki dasar ilmu laiknya psikolog atau psikiatri, ia hanya bermodalkan dasar ilmu sosial-nya. Karena dasarnya, manusia adalah mahluk sosial. Dengan melakukan pendekatan humanis, ia berupaya mengembalikan fungsi dasar manusia layaknya di dalam masyarakat - mempunyai teman, didengar, dihargai, bermain. 

Awalnya dulu, sekitar 2012, saat Ia mahasiswa, melakukan kegiatan sosial di Griya PMI, hatinya tersentuh melihat warga di sana. Rasanya seperti bahagia berkegiatan bersama mereka. Kemudian, Triana mengunjungi mereka secara rutin. Kadang membawa buah, kegiatan seperti menggambar, melukis, atau sekedar ngobrol sebagai teman. Pada akhirnya, ia mendirikan Griya Schizofren, agar lebih mudah mengajak orang lain dalam keiatan ini. Dalam perjalanannya, Triana berhasil menggerakan hati banyak orang untuk ikut serta jadi relawan di Griya Schizofren.

Jejak Kemanusiaan

Griya Scizofren ini bukan ditujukan hanya untuk penderita skizorenia saja tapi juga orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Belakangan ini, Griya Schizofren juga sering diminta bantuan untuk mendampingi mereka yang merasa bingung terhadap dirinya. "Mereka bingung harus datang kepada siapa untuk menjelaskan tentang masalah kejiwaan mereka. Salah satunya takut dengan stigma negatif di masyarakat kemudian minta pendampingan ke Griya Schizofren," tutur Triana. Sesuai namanya,  Griya schizofren ini, berasal dari Sc untuk Social (Sosial), Hi untuk Humanity (Kemanusiaan) dan Fren untuk Friendly (Teman). Griya Schizofren menjadi tempat untuk menyalurkan kepeduliannya kepada orang dengan masalah kejiwaan.

Meski sekarang sudah Griya Schizofren sudah berjalan belasan tahun, Triana sempat mengalami keputus-asaan dan kelelahan. Ia berkata pada suaminya ingin berhenti dari kegiatan di Griya Skizofren ini, karena selain Lelah mereka juga sedang bergelut dengan ekonomi yang masih labil. Beruntung saat itu semesta tidak mengizinkan, Triana diganjar hadiah sebagai penerima SATU Indonesia Award 2017 di bidang Kesehatan. Uang sebesar Rp. 70 juta menjadi modalnya tetap meneruskan perjuangan bersama Griya Schizofren. Sejak itu Astra tak berhenti mendukung Upaya Triana Rahmawati berkegiatan sosial terutama fokusnya dalam pendampingan ODMK.

 “Kalau ditanya mengapa mau konsisten sampai saat ini? Jawabannya karena aku juga punya jiwa. Mereka mengajarkan aku untuk bersyukur,” kata Ibu dua anak ini.

Setelah menerima apresiasi penghargaan itu, Triana tersadar dengan panggilan jiwanya. Bahwa kegiatan sosial, keinginan untuk berbagi Adalah isi dari jiwa Triana. Sang suami yang memahami dirinya dengan baik justru jadi pendukung utama. Triana kemudian mengembangkan kegiatan sosialnya dengan menginisiasi Happines Family, yaitu program beasiswa asrama mahasiswa dengan tekad memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat. 

Sampai sekarang, sudah banyak penerima beasiswa Happines Family, yang berhasil menyelesaikan sekolahnya. Triana melanjutkan upayanya dengan edukasi kepada keluarga dengan ODMK. Pendampingannya bertujuan untuk menguatkan keluarga dalam mendukung dan merawat ODMK.  “Pengobatan terbaik bukan berada di Rumah Sakit Jiwa atau di panti tapi Bersama keluarga mereka. Dengan keluarga yang cukup paham dengan informasi mengenai ODMK ini, memungkinkan ODMK untuk hidup lebih baik,” tutur Tiana.

Triana adalah definisi from zero to hero. Seseorang yang bukan siapa-siapa, yang tak punya apa-apa, hanya hati yang tulus memberi cinta , empati dan penerimaan. Bahwa di balik label 'jiwa yang sakit', selalu ada manusia yang ingin dimengerti. Terimakasih atas cerita inspiratifnya Triana... 

 


Kalau kita bisa menerima perbedaan fisik seseorang, mengapa tidak bisa menerima perbedaan jiwanya?