Pada 17 Agustus lalu, semarak kemerdekaan dengan
bendera merah putih dan pernak perniknya, kental terasa di Griya PMI Surakarta,
rumah bagi ODGJ terlantar. Apalagi teman-teman komunitas dari Griya Schizofren
menggelar berbagai lomba khas peringatan kemerdekaan Indonesia. Ada lomba
meniup gelas, lomba memecah balon dengan topi di kepala, dan lainnya. Para
warga antusias mengikuti lomba-lomba itu. Bahkan terlihat senang gembira saat
menerima hadiah lombanya.
Menurut Triana Rahmawati, Pendiri Griya Schizofren Solo, kegiatan yang dilakukannya bersama warga griya tersebut, bertujuan mengembalikan fungsi sosial masyarakat kepada mereka. Karena, stigma negatif yang melekat dimasyarakat meminggirkan ODGJ. Bahkan tak dianggap benar-benar ada. “Mereka ini membutuhkan kita. Di sini kita peduli dan memerhatikan bukan sebagi psikolog atau dokter tetapi sebagai teman,” tutur Triana. Ia menceritakan kisahnya bersama Griya Schizofren dalam acara workshop fotografi dan bincang inspiratif, "Satukan Gerak Terus Berdampak", Kamis (21/8) di SMG (Solopos Media Grup), Solo. Triana berbicara sebagai tokoh inspiratif.
Siapa Triana Rahmawati?
![]() |
Triana Rahmawati |
Triana bukanlah psikolog, bukan psikiatri, bukan pula pejabat besar. Ia hanyalah seorang perempuan biasa alumnus Sosiologi UNS yang bertekad besar memberi energinya dan perhatian kepada orang-orang dalam masalah kejiwaan (ODMK). Bisa dibilang Triana mendirikan komunitas Griya Schizofren ini dengan modal nekat. Ia tidak memiliki dasar ilmu laiknya psikolog atau psikiatri, ia hanya bermodalkan dasar ilmu sosial-nya. Karena dasarnya, manusia adalah mahluk sosial. Dengan melakukan pendekatan humanis, ia berupaya mengembalikan fungsi dasar manusia layaknya di dalam masyarakat - mempunyai teman, didengar, dihargai, bermain.
Awalnya dulu, sekitar 2012, saat Ia mahasiswa, melakukan kegiatan sosial di Griya PMI, hatinya tersentuh melihat warga di sana. Rasanya seperti bahagia berkegiatan bersama mereka. Kemudian, Triana mengunjungi mereka secara rutin. Kadang membawa buah, kegiatan seperti menggambar, melukis, atau sekedar ngobrol sebagai teman. Pada akhirnya, ia mendirikan Griya Schizofren, agar lebih mudah mengajak orang lain dalam keiatan ini. Dalam perjalanannya, Triana berhasil menggerakan hati banyak orang untuk ikut serta jadi relawan di Griya Schizofren.
Jejak Kemanusiaan
Griya Scizofren ini bukan ditujukan hanya untuk penderita skizorenia saja tapi juga orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Belakangan ini, Griya Schizofren juga sering diminta bantuan untuk mendampingi mereka yang merasa bingung terhadap dirinya. "Mereka bingung harus datang kepada siapa untuk menjelaskan tentang masalah kejiwaan mereka. Salah satunya takut dengan stigma negatif di masyarakat kemudian minta pendampingan ke Griya Schizofren," tutur Triana. Sesuai namanya, Griya schizofren ini, berasal dari Sc untuk Social (Sosial), Hi untuk Humanity (Kemanusiaan) dan Fren untuk Friendly (Teman). Griya Schizofren menjadi tempat untuk menyalurkan kepeduliannya kepada orang dengan masalah kejiwaan.
Meski sekarang sudah Griya Schizofren sudah berjalan belasan tahun, Triana sempat mengalami keputus-asaan dan kelelahan. Ia berkata pada suaminya ingin berhenti dari kegiatan di Griya Skizofren ini, karena selain Lelah mereka juga sedang bergelut dengan ekonomi yang masih labil. Beruntung saat itu semesta tidak mengizinkan, Triana diganjar hadiah sebagai penerima SATU Indonesia Award 2017 di bidang Kesehatan. Uang sebesar Rp. 70 juta menjadi modalnya tetap meneruskan perjuangan bersama Griya Schizofren. Sejak itu Astra tak berhenti mendukung Upaya Triana Rahmawati berkegiatan sosial terutama fokusnya dalam pendampingan ODMK.
“Kalau ditanya mengapa mau konsisten sampai saat ini? Jawabannya karena aku juga punya jiwa. Mereka mengajarkan aku untuk bersyukur,” kata Ibu dua anak ini.
Sampai sekarang, sudah banyak penerima beasiswa Happines Family, yang berhasil menyelesaikan sekolahnya. Triana melanjutkan upayanya dengan edukasi kepada keluarga dengan ODMK. Pendampingannya bertujuan untuk menguatkan keluarga dalam mendukung dan merawat ODMK. “Pengobatan terbaik bukan berada di Rumah Sakit Jiwa atau di panti tapi Bersama keluarga mereka. Dengan keluarga yang cukup paham dengan informasi mengenai ODMK ini, memungkinkan ODMK untuk hidup lebih baik,” tutur Tiana.
Triana adalah definisi from zero to hero. Seseorang yang bukan siapa-siapa, yang tak punya apa-apa, hanya hati yang tulus memberi cinta , empati dan penerimaan. Bahwa di balik label 'jiwa yang sakit', selalu ada manusia yang ingin dimengerti. Terimakasih atas cerita inspiratifnya Triana...
Kalau kita bisa menerima
perbedaan fisik seseorang, mengapa tidak bisa menerima perbedaan jiwanya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar