Selasa, 11 September 2018

Sumpel Telinga, Bikin Hubungan Menantu dan Mertua Jadi Hangat





"Carilah calon suami yang sudah gak ada Ibu."
"Kenapa?"
"Biar gak ada Ibu mertua"
Candaa jaman jomblo dulu begutu tuh. Yah, hubungan klasik Mertua vs Menantu masih seperti kisah misteri berbau horor. Apa seseram itu ya?

Bisa gak sih hubungan Mertua dan Menantu asik dan menyenangkan? Pertanyaan penting banget nih buat kamu yang mau nikah besok. (yang masih belum ada calon suami, diaminkan saja. Gak ada yang tau besok langsung ada pria sholeh, yang ngajak akad nikah).

Ehemmmm... Kalo menurut menantu perempuan ,  apalagi yang belum kenal keluarga suami. So pasti, horor banget! Apalagi kalo tipe Ibu Mertua kamu itu kaku. Dijamin gerak gerikmu serba salah. Makan salah, melangkah salah, melirik pun salah. Parahnya lagi, kalo kamu tipe melankolis plus baperan, horor level langit ke tujuh deh. Bikin badan tipis bagaikan tengkorak dibalut kulit.
Wah... Wah... Wah... Mulai gentar? Maju mundur syantik? Maju aja nikah... Gak papa kok.
Meskipun horor gitu, masih ada cara bikin hubungan mertua-menantu jadi asik. Kunci utamanya adalah S A B A R. Perlu banget ya capslock? Karena hubungan ini bakal lama, Say.

Gimana caranya bikin asik?

Pertama, minta calon suami untuk jadi jembatan antara Ibunya dan kamu. Jadi penengah. Biar dua-duanya gak salah paham. Penting ini.

Kedua, kenali hal-hal yang bikin Ibu mertua senang dan bikin murka. Hindari nih, kalo tidak bakalan jadi cerita rewind. Bakalan terkenang sepanjang masa. Kelar idup lo!

Ketiga, minta suami untuk sedikit-sedikit bercerita tentang kamu (istrinya) pada Ibu mertua. Sekaligus ajang taaruf. Bukan cuma pasangan aja, tapi juga orangtuanya. Beritahu Ibu mertua, jika tidak mudah bagi istri untuk datang ke keluarga suami seorang diri dan meninggalkan orangtua yang menyayanginya.

Keempat, pahami jika istri jadi saingan Ibunya. Gini loh Say... Ibu mertua merawat dari kecil hingga dewasa. Dia mencium dan memeluk anak laki2 nya dari kecil. Setelah menikah, anak laki2 nya itu memeluk wanita lain. Sedari kecil, Ibu mengutamakan anaknya, kemudian setelah menikah Ibu tidak kebagian waktu untuk sekedar memeluk anak laki-lakinya. Orangtua akan selalu melihat anaknya masih sama seperti masa lalu. Alias masih seperti anaknya dulu yang ditimang.

Kelima, sumpel telinga. Mertua pasti akan membanding-bandingkan menantu dengan kakak-adik ipar, kakak-adik kandung, saudara, tetangga, dan entah siapa lagi. Tapi yang paling sering ya dibanding-bandingkan dengan saudara sendiri. Masuk kuping kanan, keluarkan lagi dari kanan. Alias mental yak. Gak usah didengarkan. Kalo empet banget ya, pasang akting mendengarkan padahal lagi shalawatan, atau disambi nyuci piring, nyuci baju, masak, atau ngasah pisau (Serem deh kalo ini, mending dicoret aja). Pokonya jangan masukin di hati. Cuekin aja. Lemesin aja Sist...

Keenam, saling pengertian. Saat mertua bercerita tentang pengalamanya dulu itu. Entah cara merawat anaknya, keahlian masaknya, keahlian nyari duit, keahlian-keahlian yang lain. Didengarkan saja, tanpa membantah. Boleh memuji, membantah jangan. Pegang prinsip orangtua butuh didengarkan, itu saja. Sediakan dua telinga untuk mendengar. 

Ketujuh. Menekan ego. Apalagi kalo pas mertua memberi wejangan perihal anak kita. Tambah bumbu banding-bandingin dengan anak si ini dan itu. Membuat kita merass jadi orangtua yang buruk. Ambil yang baiknya, dan buang yang gak pengen didengar. Baiknya bahwa mertua ingin cucunya jadi keturunannya yang "jos gandos". Ini adalah cara yang paling susah. Prakteknya ini sih gak mudah. Sulit banget deh. Aseli. Tapi, ingat saja bahwa tantangan menuju jalan surga itu memang berkelok. Gak ada yang lurus, jadi sabar saja.

Wuih, ternyata tipsnya banyak juga ya. Jangan langsung takut gitu, dong calon mantu. Cobain aja semampu sista, selebihnya berdoa. Sukur Alhamdulillah kalo dapet mertua yang asik and gahol. Jangan lupa sujud sukur kalo gitu.

*Yang nulis ini juga sambil bercermin. Karna punya anak lanang, suatu hari akan jadi mertua juga. Ehem... 




Selasa, 31 Juli 2018

Nak,

pict: flickr

Nak,

Laki-laki dan perempuan, sama saja bagi Ibu. Kalian berdua adalah permata hati. Sejak lahir, Ibu mencintai kalian tanpa batas. Hanya menciumi bau keringet dan bau mulut anak- anakku, sudah bikin Ibu bahagia.

Rabu, 28 Februari 2018

Desa dan Peternakan Kambing Demi Pelajaran IPS

Dalam ulangan anak-anak, Saya tertawa melihat jawaban di kertas ulangannya. Misal: Bagaimana suasana di pedesaan? Dia jawabnya. Kering dan panas. Salahkah? Jelas, disilang oleh gurunya. Saya membatin, mungkin anak Saya ini belum pernah ke desa atau gak "ngeh" apa itu desa. Meskipun tertera dalam buku paket dan catatan ya. Hemmm, dia bukan tipe penghafal yang baik. Hehehe.

Yuk, ke Desa

Pas ada teman yang membuat kegiatan edukasi berkunjung ke peternakan kambing, kedua anak Saya langsung didaftarkan. Kebetulan, peternakannya berlokasi di Desa Waru, Gawok Sukoharjo. Kebetulan lokasinya berjarak 20 menit dari rumah. 

Rabu, 17 Januari 2018

Tie Dye Proyek Liburan


Proyek liburan anak-anak akhir tahun ini adalah membuat Tie Dye. Berhubung ngendon di rumah aja, mari kita berkreasi.

Bahan-bahan yang harus disiapkan adalah:
1. Kaos yang berbahan katun murni. Jangan yang ada campuran polysternya, karna warna hanya menembur bahan katun saja.

2. Air.

3. Pewarna Tekstil yang sudah dikunci. (Bisa beli pewarna yang sudah diberi pengunci warna. Banyak dijual di marketplace). Cairan warnanya dimasukkan ke botol, lebih mudah untuk menggunakannya.

Sabtu, 09 Desember 2017

Bertahan Hidup Dengan Uang Minim

Mbahnya anak paling sebal liat anak sulung baca buku ini. Judulnya "Keluarga Super Irit". Buku dari korea diterjemahkan ke Bahasa Indonesia melalui PT. Elex Komputindo, Gramedia Grup. Mbah sebal karena menganggap irit sama dengan pelit. Apalagi melihat cucunya pas lagi di Fast Food Pizza, berkata "Pilih yang murah-murah aja. Jangan yang mahal. Biar irit!" Katanya. "Nelangsa banget to le. Wis Mbah yang bayar. Pilih sesukamu!" Sahut Mbah sambil melotot ke Saya dengan tajam. Hahahaha.... Alhamdulillah, kantong Saya aman. Anak macam apa Saya, cih. *jangan dicontoh ya. Gak baik.

Anak sulung ini senang membaca Buku "Keluarga Super Irit" ini. Bisa sampai tertawa sendiri. Ternyata memang isinya kocak. Ceritanya satu keluarga di Korea, yaitu Na Deollong, Na Sogeum, Wang Chansun (Ibu dari Si Kembar Na Deollong dan Na Sogeum), Na Bindae (Ayah si Kembar), Wang Baeksu (Paman Si Kembar) dan Kakek. Ceritanya, satu keluarga ini menerapkan prinsip hidup super irit. Sampai-sampai k-irit-an keluarga mereka sudah terkenal hingga satu kabupaten (saking terkenalnya).

Rabu, 08 November 2017

Jika Anak Bunda Kidal, Penting Lakukan Langkah Ini Agar Tidak Di "Bully"



kidal


"Oh, kidal? Ah, biasa itu. Gak papa. Jaman now gitu."

Sebuah kalimat yang open minded. Termasuk Saya. Hari giniii? Ada yang mengharuskan anak menggunakan tangan kanan, meskipun anak nyaman left handed. Daripada membua anak trauma, Saya membiarkannya menggunakan tangan kiri kecuali untuk makan.

Open Mind

Jaman now, kayaknya kidal itu semestinya bisa belajar dengan tenang dan nyaman. Orangtuanya jadinya lempeng (baca:tenang) melepasnya ke sekolah. Hanya mengenalkan pada gurunya jika anak ini kidal. Sudah amankah?

Oh, ternyata belum cukup. Masih saja ada bully yang terjadii di sekolahnya. Gak ada yang mau kan anaknya dibully?

           Ambil langkah ini juga ya, Bun.

  1.  Dekati teman-teman sekelasnya. Sampaikan pada teman-temannya, jika anak kita menggunakan tangan kiri dan itu bukan masalah. Jangan ditertawakan, diolok-olok atau diejek.
  2. Motivasi mereka. Anak "left handed" merasa berbeda dengan temannya yang menggunakan tangan kanan.  Sampaikan pada mereka, bahwa menggunakan tangan kiri adalah istimewa. Hanya sedikit orang yang terampil menggunakan tangan kiri. 
  3. Perlihatkan contoh-contoh orang lain yang menggunakan tangan kiri juga. Gunanya agar meyakinkan mereka bahwa ada orang lain yang sama dengannya.
  4. Dekati guru-gurunya dan beri mereka pengertian untuk memaklumi anak left hand. Minta agar mereka tidak memaksakan anak menggunakan tangan kanan. Minta mereka agar memaklumi jika anak butuh waktu lebih lama dari temannya, misal dalam hal menggunting. 
  5. Dengarkan keluhan anak jika bermasalah dengan intruksi atau kegiatan yang mengharuskan mereka menggunakan tangan kanan.
 S

S        Semua orangtua tentu berharap anak-anak belajar dengan nyaman. Tidak ada yang ingin anaknya dibully atau merasa tertekan. Jangan hanya andalkan guru sekolah saja. Karena lingkungan teman-teman memberi pengaruh besar bagi kehidupannya. 

SeSemoga semua anak-anak bisa bersekolah dengan nyaman ya Bun... Aamiin. 



Jumat, 27 Oktober 2017

Percayakah Batik Ada Kekuatan Magis? Part 1.


Semangat dan semangat banget deh ngikutin pelatihan batik hampir sebulan lamanya. Semua ilmu diserap habis tak bersisa. Hiperbolis keknya, Say. Ada satu ilmu yang nohok jiwa. Banget. Ilmu magis… Magisnya bukan ilmu sihir atau kebatinan kayak gitu. Bukan…

Jadi ceritanya gini ya.
Saya kan anaknya gitu. Sok-sok bisalah. Nah, pas praktek bikin batik tulis, pilih motif yang Parang. Sederhana namun elegan. Lha yo, motifnya para raja, yak kan? Gampang nih… Cuma bikin S berjejer – jejer. Suombong puol.
Sebelum nyanting, Saya bikin pola dulu di kertas, kemudian dijiplak di kain mori (Kain bewarna putih). Sampai sini masih lancar.