Rabu, 28 Februari 2018

Desa dan Peternakan Kambing Demi Pelajaran IPS

Dalam ulangan anak-anak, Saya tertawa melihat jawaban di kertas ulangannya. Misal: Bagaimana suasana di pedesaan? Dia jawabnya. Kering dan panas. Salahkah? Jelas, disilang oleh gurunya. Saya membatin, mungkin anak Saya ini belum pernah ke desa atau gak "ngeh" apa itu desa. Meskipun tertera dalam buku paket dan catatan ya. Hemmm, dia bukan tipe penghafal yang baik. Hehehe.

Yuk, ke Desa

Pas ada teman yang membuat kegiatan edukasi berkunjung ke peternakan kambing, kedua anak Saya langsung didaftarkan. Kebetulan, peternakannya berlokasi di Desa Waru, Gawok Sukoharjo. Kebetulan lokasinya berjarak 20 menit dari rumah. 

Rabu, 17 Januari 2018

Tie Dye Proyek Liburan


Proyek liburan anak-anak akhir tahun ini adalah membuat Tie Dye. Berhubung ngendon di rumah aja, mari kita berkreasi.

Bahan-bahan yang harus disiapkan adalah:
1. Kaos yang berbahan katun murni. Jangan yang ada campuran polysternya, karna warna hanya menembur bahan katun saja.

2. Air.

3. Pewarna Tekstil yang sudah dikunci. (Bisa beli pewarna yang sudah diberi pengunci warna. Banyak dijual di marketplace). Cairan warnanya dimasukkan ke botol, lebih mudah untuk menggunakannya.

Sabtu, 09 Desember 2017

Bertahan Hidup Dengan Uang Minim

Mbahnya anak paling sebal liat anak sulung baca buku ini. Judulnya "Keluarga Super Irit". Buku dari korea diterjemahkan ke Bahasa Indonesia melalui PT. Elex Komputindo, Gramedia Grup. Mbah sebal karena menganggap irit sama dengan pelit. Apalagi melihat cucunya pas lagi di Fast Food Pizza, berkata "Pilih yang murah-murah aja. Jangan yang mahal. Biar irit!" Katanya. "Nelangsa banget to le. Wis Mbah yang bayar. Pilih sesukamu!" Sahut Mbah sambil melotot ke Saya dengan tajam. Hahahaha.... Alhamdulillah, kantong Saya aman. Anak macam apa Saya, cih. *jangan dicontoh ya. Gak baik.

Anak sulung ini senang membaca Buku "Keluarga Super Irit" ini. Bisa sampai tertawa sendiri. Ternyata memang isinya kocak. Ceritanya satu keluarga di Korea, yaitu Na Deollong, Na Sogeum, Wang Chansun (Ibu dari Si Kembar Na Deollong dan Na Sogeum), Na Bindae (Ayah si Kembar), Wang Baeksu (Paman Si Kembar) dan Kakek. Ceritanya, satu keluarga ini menerapkan prinsip hidup super irit. Sampai-sampai k-irit-an keluarga mereka sudah terkenal hingga satu kabupaten (saking terkenalnya).

Rabu, 08 November 2017

Jika Anak Bunda Kidal, Penting Lakukan Langkah Ini Agar Tidak Di "Bully"



kidal


"Oh, kidal? Ah, biasa itu. Gak papa. Jaman now gitu."

Sebuah kalimat yang open minded. Termasuk Saya. Hari giniii? Ada yang mengharuskan anak menggunakan tangan kanan, meskipun anak nyaman left handed. Daripada membua anak trauma, Saya membiarkannya menggunakan tangan kiri kecuali untuk makan.

Open Mind

Jaman now, kayaknya kidal itu semestinya bisa belajar dengan tenang dan nyaman. Orangtuanya jadinya lempeng (baca:tenang) melepasnya ke sekolah. Hanya mengenalkan pada gurunya jika anak ini kidal. Sudah amankah?

Oh, ternyata belum cukup. Masih saja ada bully yang terjadii di sekolahnya. Gak ada yang mau kan anaknya dibully?

           Ambil langkah ini juga ya, Bun.

  1.  Dekati teman-teman sekelasnya. Sampaikan pada teman-temannya, jika anak kita menggunakan tangan kiri dan itu bukan masalah. Jangan ditertawakan, diolok-olok atau diejek.
  2. Motivasi mereka. Anak "left handed" merasa berbeda dengan temannya yang menggunakan tangan kanan.  Sampaikan pada mereka, bahwa menggunakan tangan kiri adalah istimewa. Hanya sedikit orang yang terampil menggunakan tangan kiri. 
  3. Perlihatkan contoh-contoh orang lain yang menggunakan tangan kiri juga. Gunanya agar meyakinkan mereka bahwa ada orang lain yang sama dengannya.
  4. Dekati guru-gurunya dan beri mereka pengertian untuk memaklumi anak left hand. Minta agar mereka tidak memaksakan anak menggunakan tangan kanan. Minta mereka agar memaklumi jika anak butuh waktu lebih lama dari temannya, misal dalam hal menggunting. 
  5. Dengarkan keluhan anak jika bermasalah dengan intruksi atau kegiatan yang mengharuskan mereka menggunakan tangan kanan.
 S

S        Semua orangtua tentu berharap anak-anak belajar dengan nyaman. Tidak ada yang ingin anaknya dibully atau merasa tertekan. Jangan hanya andalkan guru sekolah saja. Karena lingkungan teman-teman memberi pengaruh besar bagi kehidupannya. 

SeSemoga semua anak-anak bisa bersekolah dengan nyaman ya Bun... Aamiin. 



Jumat, 27 Oktober 2017

Percayakah Batik Ada Kekuatan Magis? Part 1.


Semangat dan semangat banget deh ngikutin pelatihan batik hampir sebulan lamanya. Semua ilmu diserap habis tak bersisa. Hiperbolis keknya, Say. Ada satu ilmu yang nohok jiwa. Banget. Ilmu magis… Magisnya bukan ilmu sihir atau kebatinan kayak gitu. Bukan…

Jadi ceritanya gini ya.
Saya kan anaknya gitu. Sok-sok bisalah. Nah, pas praktek bikin batik tulis, pilih motif yang Parang. Sederhana namun elegan. Lha yo, motifnya para raja, yak kan? Gampang nih… Cuma bikin S berjejer – jejer. Suombong puol.
Sebelum nyanting, Saya bikin pola dulu di kertas, kemudian dijiplak di kain mori (Kain bewarna putih). Sampai sini masih lancar.

Percayakah Batik Ada Kekuatan Magis? Part 2.



Bukan hanya motif parang saja yang dipercaya ada unsur magisnya. Beberapa motif batik lainnya juga dipercaya ada kekuatan magis. Salah satunya, motif batik tambalan. Jika ada orang yang sakit, diselimuti dengan batik tambalan, dpercaya cepat sehat kembali. Percaya gak percaya?
Saya sih percaya ya… Pelajaran dari kesoktahuan kemarin nih. 

Sabtu, 14 Oktober 2017

Batik yang Diakui UNESCO

Masih ingat dengan kehebohan Malaysia - Indonesia mengenai batik? Ya, negara tetangga kita itu mendaftarkan salah satu motif batik ke UNESCO. Perang pendapat tak terhindari lagi. Bagi kita, Batik adalah warisan dari leluhur kita sejak jaman Majapahit. Titik! Gak pake koma!

Lantas, para master batik langsung bergerak mendaftarkan batik sebagai warisan leluhur kita ke UNESCO. Tapi.... Bukan par apunggawa batik bukan mendaftarkan motif batiknya, seperti yang dilakukan oleh Malaysia. Tapi batik sebagai proses pewarnaan. Mengapa demikian?