29 Juli 2014, berita terkahir tentang Gaza. Israel meledakkan satu-satunya pembangkit listrik di Gaza. Bisa dibayangkan akibatnya hidup dalam gulita dalam waktu yang sangat lama. Untunngnya matahari msh bersinar di siang hari. Apalah Israel ini. Sungguh nakal. Rumah sakit, sekolah PBB, sampai tempat pengungsian di bwah perlindungan PBB pun dihujani peluru dan rudal. Seribu lebih warga Gaza meninggal, banyakan anak-anak dan wanita. Karena pembangkit listrik di Gaza hancur, banyak bayi yang tergantung inkubator terancam karena tidak ada pasokan listrik. Semoga Allah melindungi mereka.
Apalah Israel ini? Dimanalah hati Obama? Sibuk sekali dia mengencam sanksi kepada Rusia karena tertembaknya pesawat Malaysia Airlines MH 17 (17 Juli 2014). Obama mengatakan Rusia telah melakukan pelanggaran hukum perang Internasional. Lalu, apa yang terjadi di Gaza? Apa? Apalah Obama ini? Lebih dari seribu orang mister.... Apalah Obama ini?
Percuma berharap pada Obama, Amerika Serikat, apalagi PBB. Sia-sia. Apa yang bisa menghentikan Si nakal Israel ini? Pengen nyubit rasanya. Dicubit sampe biru-biru. Karena nakalnya kelewatan. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Gaza? Sumbangan harta dan doa hanyalah ala kadarnya. Belum cukup menghilangkan rasa bersalah karena tak berdaya.
Apa yang bisa saya lakukan? Boikot produk Israel? Rasaanya ini bisa dilakukan. Frustasi juga menggunakannya. Saya mendata seisi rumah dari meja makan, kamar tidur, kamar mandi, dapur, makanan dan susu anak. Hasilnya? positif produk Israel, berdasarkan data yang saya dapatkan dari mbah google. Belum termasuk FB dan Twitter. Huaaaa.... tidak... Bukan hanya Gaza yang dikepung Israel.
Biarlah.... Sementara ini biar isi rumah dan isi perut dulu yang bersih dari produk Israel. Minimal mengikis sedikit amarah dalam dada. Melakukan sedikit perlawanan. Meskit apa yang dilakukan tidak akan mempengaruhi apapun terhadap ekonomi Israel. Apalagi menghentikan tindakan kejam Israel.
Ini hanya wujud kecil dari solidaritas saya dan keluarga untuk Gaza.
Wassalam
Pray For Gaza
Rabu, 30 Juli 2014
Sabtu, 19 Juli 2014
Mengetuk Empati Semurni Murni Empati
Masih dalam semangat euforia Si Sulung masuk SD.
Pada masa pendaftaran, pihak sekolah sudah menjelaskan panjang lebar mengenai konsep inklusi dalam sekolah tersebut. Sekolah akan menerima semua anak, baik yang 'normal' maupun 'berkebutuhan khusus'. Sekolah ini tidak menerapkan sistem tinggal kelas. Bila anak mengalami kesulitan tentang satu pelajaran tertentu maka tim kurikulum sekolah bersama guru akan memodifikasi kurikulum dan cara pengajaran. Intinya, tidak mengejar target angka namun pemahaman. Jadi jangan heran bila nanti anak ibu akan sekelas dengan Anak Berkebutuhan Khusus, misalnya, Tunarungu, Autis, Down Syndrome dan lainnya.
Saya berfikir, hal tersebut bisa menjadi unsur pendidikan juga bagi Si Sulung. Belajar toleransi dan menerima perbedaaan sejak dini. Menimbulkan rasa emphati yang murni. Bila nanti si sulung bertanya begini begitu tentang materialisme (yang saya tidak mampu memberikannya), saya bisa mengalihkan kepada ucapan syukur bahwa Allah menganugerahi anggota tubuh yang lengkap dan sehat. Harapan lebihnya lagi, Si Sulung bisa tumbuh jadi anak yang sholeh dan penyayang terhadap sesama. Aamiin.
Ketika hari pertama sekolah, Si Sulung satu kelas dengan lima orang siswa berkebutuhan khusus. Mereka didampingi seorang Guru Pendamping Khusus. Ada siswi dengan Down syndrome, dua siswa penderita Tunarungu, dan dua siswa dengan autis. Si sulung pun mengambil kursi bersebelahan dengan siswa Down syndrome. Ingin kutarik dia untuk pindah kursi, tapi mengapa? Saya yang di mulut ini berucap manis dengan cita-cita idealis.: agar Si sulung berempati, terkejut getir. Airmata hampir jatuh netes. Ada yang tidak beres dengan hati ini. Sedikit tidak terima dengan kenyataan ini. Nyatanya, saya yang tidak siap! Nyatanya saya tidak punya empati yang murni itu!
"Mas, gimana sekolahnya? Apakah menyenangkan? Teman-temannya gimana?" Saya penasaran dengan perasaannya.
"Mas suka sekolah di sana. Ustad dan ustadzahnya baik-baik. Temannya juga baik. Bantuin mas nulis," ceritanya bahagia.
Seminggu berlalu.
Jumat tadi (18/7), Saya berkenalan dengan seorang ibu dari anak dengan Autis. Saat ini sang anak sudah di kelas empat SD (9 tahun). Menurutnya, saat ini anaknya sudah bisa menghafal juz ama Al quran, juga berbicara, berhitung, menghafal dan lainnya. Ia tidak membayangkan hal itu sebelumnya karena dulu, anak tersebut sangat impulsif dan agresif. Dalam hati, "Semua orangtua harus bangga pada anaknya tanpa terkecuali. Dan semua anak berhak mendapat perhatian, perlakuan dan pendidikan yang sama-sama ramah terhadap anak-anak tanpa pembedaan."
Pas pulang sekolah, tiba-tiba siswi down sidrom (sekelas dengan si sulung) mendatangi saya untuk salim. Dia tersenyum dan berucap da-dah, dengan terbata-bata. Subhanallah! Dengan keterbatasannya dia berupaya keras menyapa saya. Saya malu! Malu sudah sombong merasa lebih baik. Kali ini air mata saya jatuh. Saya malu bahwa hati ini pernah merasa menyesal dengan keberadaannya dekat Si Sulung. Semoga Allah mengampuni saya. Semua manusia sama di mata Allah. Maafkan saya ya, gadis kecil yang cantik. Ibu ini belum punya hati yang kasih.
Tampaknya, bukan Si Sulung saja yang belajar berempati dan toleransi yang murni. Saya, Ibunya, orang dewasa yang hanya bisa bicara empati tanpa merasa. Ngomong toleransi tanpa hati.
Nak, semoga hati kita mempunyai empati yang murni ya. Kita belajar bersama tentang toleransi dan kasih sayang pada sesama. Aamiin.
Rabu, 16 Juli 2014
Pizza dan Gaza
16 Juli 2014
Kemarin, 15 Juli 2014, sekolah si Sulung sukses menggelar Aksi Solidaritas untuk Gaza (http://www.solopos.com/2014/07/16/foto-israel-serang-gaza-sd-al-firdaus-galang-dana-bagi-palestina-519563). Si sulung antusias mengikuti aksi itu. Dalam benakku mungkin dia juga tidak paham dengan aksi tersebut. Semangatnya antri untuk memasukkan zakat untuk Gaza membuatku tersenyum kecil. Pun saat mendengar orasi penuh semangat dari penampilan sang Guru dan kakak kelasnya. Ia bernyanyi kecil saat lagu Michael Heart, We Will Not Go Down.
Ada hal lucu dari bagian aksi ini. Sang guru berorasi di panggung tentagn cara kita membantu Palestina. Selain menyumbang harta juga memberi perlawanan berupa boikot produk Israel. Dengan tidak menggunakan produk negara yang nakal itu maka Israel gak punya uang untuk beli senjata yang bisa membunuh di Gaza.
Apa saja produknya, beliau menyebutkan satu per satu, Mark N Spencer, Danone, Loreal. Sampai sini para siswa masih mendengarkan. Lalu, Barbie juga produk Israel, murid perempuan sontak berteriak, "Yaaaaaa....," teriak mereka
Mc Donald, "Yaaaaa...," teriak lagi
Nestle, "Yaaaa....," teriak lagi
Pizza Hut, "Yaaaaa,...." Si sulung ikut teriak.
Kontan aku langsung tertawa melihat ekspresi teriak dan wajahnya. Pizza adalah makanan favoritnya. Kami menikmati Pizza ya di Pizza Hut.
"Ibu, Pizza Hut itu punya Israel, ya?"
Sumpah, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bagian yang ini. Pengetahuan dan wawasanku sangat kurang untuk membantunya mencari jawaban ini. Aku hanya tersenyum dan membelai kepalanya.
"Nanti kita makan Pizza di tempat lain. Atau nani kita buat sendiri di rumah," jawabku menenangkannya. Padahal aku juga ragu.
Goodbye Pizza
Cerita Malam Ini Tentang Gaza, ya Nak
14 Juli 2014
Si Sulung baru masuk sekolah. Sekolah mengintruksikan anak-anak mengenakan baju berwarna hitam atau nuansa gelap. Karena Selasa, 15 Juli 2014, Sekolah berencana menggelar aksi solidaritas untuk Gaza, palestina.
Awalnya, tidak ada niatan untuk bercerita tentang Gaza kepada si sulung (6 thn). Menurut saya, sulung masih kecil untuk memahami kejadian di sana. Namun apalah kata, rencana aksi solidaritas itu mengusik keingintahuannya. Apa itu Gaza? Apa itu aksi solidaritas?
Begini penjelasan saya yang sangat terbatas kepada si Sulung. Nak, rumah kita di negara yang namanya Indonesia. Di bumi ini ada juga negara yang bernama Palestina yang jauuuuuhhhh sekali dari Indonesia. Palestina punya tempat yang bernama Gaza. Saat ini, sekarang Gaza sedang diserang oleh negara yang namanya Israel. Israel mengebom Gaza. Banyak yang meninggal. Ada anak-anak, ibu-ibu, om-om, banyak sekali seratus orang. Mereka dibom. Kepalanya luka, kakinya, tangannnya. Bom juga membunuh Ibunya, bapaknya, embahnya.
Demi melihat wajahnya yang mulai bergidik. Saya hentikan cerita pengeboman itu. Mungkin dia membayangkan peristiwa itu.
Dia berujar, Israel itu nakal ya bu. Kenapa Israel nakalin Gaza?
Agak sulit menyederhanakan sejarah panjang konflik itu. Singkatnya, Israel dan Palestina rebutan rumah. Makanya jadi bertengkar hebat. Musuhan. Perang-perangan. Akibatnya banyak orang disakiti. Menangis dan terluka.
Raut wajahnya termenung. Kasihan ya bu, gumamnya. Saya jelaskan juga tentang aksi solidaritas yang dilakukan Sekolahnya. Aksi itu adalah keinginan kita sebagai manusia untuk membantu teman yang kesusahan. Saat ini anak-anak di Gaza sedang sulit. Mereka kehabisan obat, makanan, pakaian, buku dan rumah. Makanya untuk menolong mereka, sekolah mengajak anak-anak untuk menyumbang uang. Uang itu digunakan untuk membeli obat-obatan dan makanan.
Seperti zakat ya Bu? tanyanya polos.
Sederhananya. Iya nak anggap saja seperti zakat. Yang penting si sulung paham arti berbagi dan mempunyai rasa empati.
Setiap ada tayangan berita tentang Gaza, Si Sulung paling heboh menyimaknya.
Si Sulung baru masuk sekolah. Sekolah mengintruksikan anak-anak mengenakan baju berwarna hitam atau nuansa gelap. Karena Selasa, 15 Juli 2014, Sekolah berencana menggelar aksi solidaritas untuk Gaza, palestina.
Awalnya, tidak ada niatan untuk bercerita tentang Gaza kepada si sulung (6 thn). Menurut saya, sulung masih kecil untuk memahami kejadian di sana. Namun apalah kata, rencana aksi solidaritas itu mengusik keingintahuannya. Apa itu Gaza? Apa itu aksi solidaritas?
Begini penjelasan saya yang sangat terbatas kepada si Sulung. Nak, rumah kita di negara yang namanya Indonesia. Di bumi ini ada juga negara yang bernama Palestina yang jauuuuuhhhh sekali dari Indonesia. Palestina punya tempat yang bernama Gaza. Saat ini, sekarang Gaza sedang diserang oleh negara yang namanya Israel. Israel mengebom Gaza. Banyak yang meninggal. Ada anak-anak, ibu-ibu, om-om, banyak sekali seratus orang. Mereka dibom. Kepalanya luka, kakinya, tangannnya. Bom juga membunuh Ibunya, bapaknya, embahnya.
Demi melihat wajahnya yang mulai bergidik. Saya hentikan cerita pengeboman itu. Mungkin dia membayangkan peristiwa itu.
Dia berujar, Israel itu nakal ya bu. Kenapa Israel nakalin Gaza?
Agak sulit menyederhanakan sejarah panjang konflik itu. Singkatnya, Israel dan Palestina rebutan rumah. Makanya jadi bertengkar hebat. Musuhan. Perang-perangan. Akibatnya banyak orang disakiti. Menangis dan terluka.
Raut wajahnya termenung. Kasihan ya bu, gumamnya. Saya jelaskan juga tentang aksi solidaritas yang dilakukan Sekolahnya. Aksi itu adalah keinginan kita sebagai manusia untuk membantu teman yang kesusahan. Saat ini anak-anak di Gaza sedang sulit. Mereka kehabisan obat, makanan, pakaian, buku dan rumah. Makanya untuk menolong mereka, sekolah mengajak anak-anak untuk menyumbang uang. Uang itu digunakan untuk membeli obat-obatan dan makanan.
Seperti zakat ya Bu? tanyanya polos.
Sederhananya. Iya nak anggap saja seperti zakat. Yang penting si sulung paham arti berbagi dan mempunyai rasa empati.
Setiap ada tayangan berita tentang Gaza, Si Sulung paling heboh menyimaknya.
Semurni Air Semurni Cinta Bapak
Pertama kali melihat iklan alat pemurni air Pure It.
Langsung teringat Almarhum Bapak tercinta. Saat remaja di medio 94-an, kami
sekeluarga pindah ke rumah yang belum memiliki fasilitas pasokan air dari PAM.
Satu-satunya sumber air yang diandalkan adalah air tanah. Sayangnya air tanah
itu keruh dan berbau. Tidak memenuhi standar air layak minum. Tambahan lagi,
air tanah itu juga tidak layak untuk digunakan mencuci pakaian dan mandi.
Sebab, air meninggalkan noda kecoklatan pada pakaian. Sedang pada kulit yang
sensitif, air tanah menyebabkan gatal-gatal.
Bapak, sang Jagoanku, prihatin melihat kondisi air tanah
itu. Untuk mengatasi kesulitan air, beliau mengangkut air dari kantornya empat
sampai delapan derigen setiap hari. Tentu sudah seizin atasan beliau. Takut dituding
mencuri air. Air bersih itu hanya untuk konsumsi minum dan masak-memasak.
Pasokan mandi dan mencuci, bapak menggunakan tawas ke dalam sebuah bak besar.
Almarhum Bapak ternyata tidak puas dengan solusinya sendiri. Menurutnya air
yang ditawas membuat air berbau ‘pahit’ seperti obat.
Entah apa yang dilakukan jagoanku. Suatu hari bapak
memboyong sebuah tong bekas aspal, pasir, ijuk, dan batu-batu kali (apung),
juga batu kerikil. Beliau menyusun ijuk, pasir, batu-batuan, dari bawah sampai
setengah tong. Setelah itu air tanah dikucurkan. Saya lupa berapa lama
pemurnian air dalam tong itu berlangsung. Tau-tau air bersih yang jernih dan tak
berbau mengalir dari keran di bawah tong.
Saya dan Bapak saat itu gembira luar biasa. Bagaikan menemukan
mata air baru di musim kemarau. Air jernih itu kami rebus kemudian diminum
bersama sekeluarga. Segar! Sebenarnya
yang saya rasakan saat itu adalah kemurnian cinta kasih bapak kepada keluarga.Ternyata cara Bapak memurnikan air ini terdapat di blog orang yang bernasib sama seperti kami.
Almarhum bapak pasti
mengenang hal ini jika melihat iklan Pure It. Andaikan Pure It hadir kala itu,
tentu semuanya jadi lebih praktis. Bapak tidak susah dan lelah berpikir solusi
air keruh berbau. Tak perlu tong, ijuk dan teman-temannya. Bapak hanya perlu
mengalirkan air tanah ke dalam pure it. Dan treng
treng treng.... air jernih layak minum itu langsung bisa diteguk glek glek glek.
Ah, rindu pada Bapak jagoanku.
Cintamu semurni air Pure It.
Kamis, 02 Januari 2014
Solopos: Pesta Tahun Baru, Kondom Diburu
2 Januari 2014
Suasana tahun baru masih terasa hari ini. Kembang api juga masih berdentam-dentum. Apalagi bunyi terompet.. Toat toet toet toet! bocah-bocah sukacita niup terompet. Setiap perganitan tahun pasti acaranya meriah, ramai dan heboh. Tapi saya jarang sekali menghabiskan waktu untuk malam pergantian tahun itu. Malahan banyak ngedumel. Abisnya bayi saya susah tidur karena bunyi dentam dentum kembang api dan bunyi terompet atau pernah bangun dan langsung tantrum karena kaget.
Yah, gimana lagi, begitulah kebiasaan tahun baru. Dan saya tidak menikmatinya sama sekali. Hari ini saya baca di Harian Solopos, judulnya Pesta Tahun Baru, Kondom diburu. Tarik nafas dulu lalu membaca berita itu. miris sekali. Dinyatakan oleh penjaga apotek si kota Solo bahwa penualan kondom meningkat 100persen dibanding hari biasanya. Hal yang sama juga dinyatakan oleh penjaga minimarket, selain makanan ringan, minuman beralkohol dan kondom menjadi komoditas terlaris. Dan pembelinya kebanyakan orang muda. Penjelasan ditambah dengan pernyataaan seorang remaja yang melewatkan pergantian tahun itu dengan pesta seks bebas. Dia menyewa sebuah villa bersama teman-temannya, lalu mabuk-mabukkan dan seks bebas. Huah!
Mungkin saya agak norak dengan berita ini tapi beneran ngenes. Pemerintah dan semua masyarakat merayakan tahun baru dengan gegap gempita. Semakin meriah setiap tahunnya, namun apakan akan semakin buruk moralitas dibalik kemeriahan itu? Kupandangi wajah kedua balitaku. Dengan lindungan Allah SWT, semoga saya bisa menjadi Ibu yang bisa membimbing mereka berjalan di norma agama yang benar. Tidak tenggelam dalam gegap gempita kemeriahan pesta.
Aamiin
Rabu, 18 Desember 2013
Cari Suami, Menikah, Beres?
Iklan sebuah farmasi besar Tem*o Sc*n, agak mengusik
hati saya. Dalam iklan itu dinarasikan ada seorang wanita dewasa yang berfikir
tentang kesetaraan wanita.
Petikannya begini. Dari kecil hingga dewasa ibu saya selalu menanamkan bahwa jadi
wanita itu gak usahlah mengejar karir. Cari suami dan kawin dan ngurus suami dengan benar, beres. Lalu
wanita itu melihat bahwa dari 12 pucuk pimpinan Grup perusahaan farmasi
tempatnya bekerja, delapan diantaranya adalah wanita. Dan ia pun yakin bahwa dia juga bisa meniru
langkah pimpinan wanita tersebut. Bila ada kemauan.
Sampai di sini jelas terlihat iklan tersebut menyiratkan kesetaraan gender dalam perusahaan farmasi tersebut. Bahwa wanita juga bisa mencapai top karir. Bagian itu sih saya setuju namun sayangnya, disiratkan pula ada pengecilan makna. Ingat petikan si Ibu wanita itu: "Cari suami, menikah, urus suami yang benar. Beres."
Penggalan kutipan itu yang mengganggu saya. Tersinggung sebenarnya.
Saya salah satu wanita yang memilih meninggalkan karir dan menikah. Jadi Ibu Rumah Tangga Penuh waktu. Wajar kalau tersinggung – pembenaran.
Sampai di sini jelas terlihat iklan tersebut menyiratkan kesetaraan gender dalam perusahaan farmasi tersebut. Bahwa wanita juga bisa mencapai top karir. Bagian itu sih saya setuju namun sayangnya, disiratkan pula ada pengecilan makna. Ingat petikan si Ibu wanita itu: "Cari suami, menikah, urus suami yang benar. Beres."
Penggalan kutipan itu yang mengganggu saya. Tersinggung sebenarnya.
Saya salah satu wanita yang memilih meninggalkan karir dan menikah. Jadi Ibu Rumah Tangga Penuh waktu. Wajar kalau tersinggung – pembenaran.
Hidup adalah pilihan. Sama halnya dengan pernikahan. Menikah
atau karir.
Jika tidak menikah saya akan mendedikasikan hidup saya pada karir.
Targetnya top pimpinan, Pemimpin Redaksi atau pemilik Media Massa - profesi saya wartawan kala itu. Hidup pun harus bermanfaat untuk kemaslahatan orang banyak.
Itu wajib hukumnya.
Jika menikah berarti hidup saya akan didedikasikan pada
suami dan keluarga. Itu wajib hukumnya.
Dalam perjalanan hidup,
keputusan saya adalah menikah. Di tengah karir yang menanjak, saya menjadi seorang
ibu. Dilemanya saya bukan wanita multi tasking. Saat di rumah,
otak di pekerjaan. Saat di kantor, otak di bayi. Hasilnya keduanya tidak
maksimal. Tidak adil untuk bayi dan pekerjaan. Kasian pada bayi saya, pun perusahaan yang membayar jasa saya.
Singkat cerita jadi Full Time Mother. Pekerjaan yang dimulai dari bangun
tidur, tanpa libur atau cuti, dilarang sakit, bisa mengerjakan semua kegiatan
domestik seperti mencuci pakaian, menyetrika, mencuci piring, menyapu,
mengepel, jadi koki, ahli gizi, pengatur keuangan, guru les. Semua hal
dilakukan sambil momong anak. Belum lagi menjadi si seksi bagi suami. Komplit!
Semua hal dilakukan dengan perasaan dan emosi jiwa. Saat perasaan labil, emosi
meninggi, hasilnya langsung terlihat, pekerjaan rumah tidak ada yang beres dan
anak rewel. Maaf sedikit curhat.
Kembali ke iklan tadi.
Dalam benak saya tentu wanita dalam iklan itu harusnya tidak menikah dan
berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi komisaris atau direktur. Skenarionya
harus begitu, menikah atau karir. Tidak boleh keduanya. Menurut saya, bila
memaksa multi tasking tetap harus memilih ‘pengorbanan’ juga.
Seperti cerita
seorang sabahat. Beliau wanita menikah, Ibu dari dua anak laki-laki yang masih
balita, seorang dosen dan ketua fakultas di kampusnya mengajar, seorang
mahasiswa pasca sarjana. Sungguh multitasking. Ia bertemu dilema saat seorang
anaknya yang masih balita sakit asma akut, ada flek di paru-paru. Bila anaknya
sesak nafas, tubuhnya sampai membiru dan segera dilarikan ke rumah sakit. Untuk
meringankan sakitnya si anak harus terapi pengobatan dan menjaga asupan makanan
si anak. Penguat rasa, pengawet makanan, pewarna sintetik, jadi pencetus utama
penyakit tersebut. Dilemanya sahabat saya, bahwa ia tidak bisa mengawasi
makanan yang dikonsumsi anaknya ketika ia sedang bekerja dari jam 8 pagi sampai
jam 5 sore. Meski anak dan pengasuhnya sudah diwanti-wanti jangan jajan
sembarangan tetap saja kecolongan.
Suatu hari ia curhat pada saya, “Enaknya
dirimu, bisa mengawasi anak-anak penuh di rumah saja. Tidak seperti saya.
Stress saya, melihat anak sakit seperti itu sementara pekerjaan tidak bisa
ditinggalkan, tesis keteteran. Bila semester ini saya tidak lulus juga beasiswa
akan dicabut. Stres tingkat dewa,”
“Gak sulit kok, siapkan
surat resign, tanda tangani, dan
jadilah seperti saya.” Jawab saya.
“Tidak bisa semudah itu
dan beres. Saya tidak ingin meninggalkan karir saya di kampus. Banyak sekali
kesempatan untuk aktualisasi diri, beasiswa pendidikan sampai post
doctoral pun di prioritaskan untuk pengajar. Rugi bila diabaikan begitu saja.
Kamu tahu saya dari SMA, apa cita-cita saya,”
“Iya saya kenal baik
dirimu sejak SMA. Jika tetap mengejar karir, silakan. Konsekuensinya waktu
untuk mendampingi anak-anak berkurang. Tidak bisa mengawasi asupan makan
mereka. Melihat anak-anak sakit. Itu bagian dari konsekuensi. Jangan pula
memandang saya Ibu Rumah Tangga sebelah mata. Betapa enaknya menjadi saya.
Semua pilihan ada pengorbanan. Dirimu memilih karir dan menutup mata saat anak
sakit, dan saya memilih keluarga dan menutup bab cita-cita zaman sekolah,”
tandas saya.
Balik ke iklan lagi,
wanita itu harus lajang seumur hidup atau multi tasking yang berarti menutup
mata untuk keluarganya. Tidak seperti kutipan si Ibu wanita dalam iklan, “Pilih
suami, menikah dan beres.” Dalam kehidupan ini tidak ada yang ‘Beres’ seperti workshop. Suami work, Istri yang shop
–belanja menghabiskan uang suami. Dalam perusahaan itu ada kesetaraan gender
pun dalam rumah tangga harus ada kesetaraan gender. Suami dan istri mengerti
bagian pekerjaan masing-masing. Bila salah satu butuh bantuan harus
dibicarakan, saling memahami, menghilangkan egosentris dalam diri – bagian ini
yang sulit.
Bab menghilangkan ego yang paling berat. Jangan
tanyakan soal cita-cita, ada 1001 cita-cita dalam angan saya. Cita-cita utama
adalah menjadi pemimpin redaksi dan atau pemilik media massa. Media Massa
adalah pilar negara yang tak terlihat. Powerfull.
Nah, cita-cita ini kuleburkan jadi satu. Diuleni sampai kalis hingga jadi
sebuah adonan yang solid. Adonan cita-cita, maksudnya. Campuran cita-cita itu membentuk cita-cita baru yang wujudnya berbeda. Emak-emak sekali cita-cita ini, tapi tidak se'beres' petikan si Ibu dalam iklan itu.
Mendampingi anak-anak
dari mereka membuka mata, menjaga asupan makan dan gizi tubuh, otak dan jiwa
mereka. Anak-anak menjadi anak yang sehat, ceria dan berakhlak. Membimbing
anak-anak menapaki setiap pertambahan umur dengan bekal yang cukup. Bekal
makanan, ilmu dan perkembangan emosi yang baik. Setiap waktu saya belajar ilmu
pengasuhan (parenting), ilmu kuliner,
jarimatika dan lainnya demi membimbing buah hati.
Tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan. Wanita karir, Ibu bekerja, Ibu Rumah Tangga adalah setara. Tidak ada yang 'lebih' dari pilihan tersebut. Selama para wanita tau konsekuensinya. Kesetaraan gender itu bukan kesempatan yang sama dalam meraih kedudukan dan posisi dalam dunia kerja. Menurut saya, kesetaraan gender itu adalah adanya komunikasi yang baik antar pria dan wanita. Karena umumnya ada perbedaan cara pandang dan pemikiran antara pria dan wanita.
Balik ke iklan tadi, semoga mbak si bintang iklan itu menjadi top pimpinan ya. Tapi jangan juga meremehkan Ibu Rumah Tangga yang karirnya di rumah saja.
Langganan:
Postingan (Atom)