Selasa, 02 September 2014

Si Sulung Butuh Bapak


 “Ibu, yatim piatu itu apa?” Tanya si Sulung. 
“Anak yang tidak ada orang tua. Tidak ada ibu dan bapak,” jawabku bijaksana.
“Kalau anak yatim?”
“Anak yatim adalah anak yang tidak ada bapaknya,” jawabku lagi.
“Oh, seperti mas ya bu. Tidak ada bapaknya,” simpulnya polos.
“Oh, bukan sayang. Bapak mas ada tapi sekarang kerja di Tahuna. Jauh di sana,” jawabku sambil menahan air di pelupuk mata.
“Lho, bapak kan tidak ada di rumah. Jadi mas, anak yatim,” yakinnya lagi.
“Maksudnya, anak yatim itu adalah anak yang bapaknya sudah meninggal. Seperti Mbahkung yang sudah meninggal,” terangku masih menahan isak tangis.
“Oooo... kalau meninggal tidak bisa ketemu lagi ya. Seperti mbahkung tidak ketemu lagi sama mas. Kalau bapak masih bisa ketemu?”
“Terus kapan bapak pulang?” cerocosnya dengan kilat mata yang bikin air mata ibunya tumpah.
Duh....


 Resikonya, menjalani hubungan jarak jauh. Lengkapnya hubungan pernikahan jarak jauh. Anak usia 6 tahun sepertinya sangat membutuhkan kehadiran formasi lengkap kedua orangtuanya. Tapi apa daya tidak bisa melawan takdir. Hanya memanjatkan doa setiap malam untuk mengubah nasib agar lebih baik. 

Keluarga kami bukan satu-satunya yang mengalami nasib yang sama. Keluarga tentara, keluarga pelayar, keluarga Kementrian Keuangan yang programnya dipindah-pindah, keluarga para pekerja tambang. Keluarga mana lagi, ya? 

Tulisan ini bukan untuk mengeluhkan jalannya drama keluarga jarak jauh, tapi tentang Si Sulung. Dia yang berkarakter cuek-cuek butuh dengan bapaknya itu, sudah mulai mengungkapkan isi di hatinya. Bagi saya itu penting dalam perkembangan si Sulung. Karena selama ini, dia termasuk tipe yang 'mendem jero,' tidak mengungkapkan apa yang dirasakannya.

Dalam fase ini, si Sulung tentu sangat membutuhkan peran ibu dan bapaknya. Kedua peran itu lah yang harus saya jalankan berasamaan. Agar dia tidak merasa timpang. Kebutuhan akan peran sang Bapak bisa saya cukupi.


Sebenarnya apa saja sih, kebutuhan anak laki-laki 6 dari bapaknya.

- Bapak menjadi model dan memberi pengaruh, baik emosi, sosial, maupun fisik

-  Belajar mengomunikasikan perasaan kepada keluarga. Anak kerap salah memahami mood jelek orang tuanya dan menganggap dirinya penyebab kemarahan orang tuanya.


·        - Belajar mengekspresikan perasan. Laki-laki yang mencari dan mendapat dukungan emosi dari keluarga akan mengalami kehidupan keluarga yang harmonis.

·         - Anak laki-laki belajar memperlakukan perempuan dengan mengamati ayah.

·         - Banyak hal yang bisa dipelajari oleh balita laki-laki dari bapaknya. Pastinya, sebagai bapak harus menjadi contoh yang baik bagi anaknya, khususnya laki-laki. Dari bapaknya, anak laki-laki ingin belajar menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab, dan menerima maskulinitasnya dengan gembira.

Bahkan dari suatu penelitian bapak perlu berinteraksi dengan anak sedikitnya dua jam sehari dan enam setengah jam di akhir minggu. Dengan bertambahnya usia anak, jumlah waktu bisa saja berkurang. Namun kebutuhan anak laki-laki untuk berinteraksi dengan ayah, dua kali melebihi kebutuhan anak perempuan. (sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/)

Peran bapak yang tidak bisa terpenuhi ini mejadi kewajiban bagi saya, Ibunya untuk melengkapi. Peran ibu sekaligus bapak. Sehingga dia tidak merasa seperti anak yatim tadi. Mungkin si Sulung belum bisa memahaminya sebagai arti kata harfiah. Tapi bagi saya, pertanda bahwa Si Sulung sangat membuthkan bapak. 

Hal penting yang harus saya lakukan saat ini adalah berhenti mengeluh dan tampil maskulin dan gagah seperti bapak. Anak-anak bisa mendapatkan ibunya lagi saat tidur, makan bersama, masak bersama, hal yang menampakkan sisi feminin. Meluangkan waktu yang lebih banyak untuk mengajaknya bermain basket, bulutangkis, gulat, bersepeda, dan kegiatan yang biasa dikerjakan Anak-Bapak.

Gimana? InsyaAllah bisa! Stop mengeluh. 

Apapun kondisi keluarganya, apakah utuh (formasi lengkap), utuh namun berjauhan, bercerai, atau yatim (piatu), anak-anak lah yang terdampak. Sulit bagi mereka untuk memahami dan mengerti kondisi keluarganya dalam usia yang belia.

"Semoga anak-anak bisa mengerti kondisi keluarganya kelak dan bisa tumbuh berkembang dengan baik." 

Aamiin




2 komentar: